Indonesia Today: Celah Manipulasi Masih Menganga Sistem Pengawasan Ekspor

IDR/USD = ↓ 14.242,5                   -0,5             (-0,00%)               (Source : Bloomberg)

JCI : IND     ↓ 6.468,76                   -12,3          (-0,19%)               (Source : Bloomberg)

 

190401_Celah Manipulasi Masih Menganga Sistem Pengawasan Ekspor.

  • Kendati pola pengawasan ekspor terus diperkuat oleh pemerintah, masih terdapat celah yang dimanfaatkan para eksportir untuk mereguk keungtungan pribadi.
  • Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno mengungkapkan, proses manipulasi atau kecurangan ekspor dengan skema aliran keuangan gelap (illicit financial), telah menjadi penyakit menahun dalam kinerja ekspor RI. Salah satunya untuk menyiasati tarif pajak yang terlalu tinggi.
  • Manipulasi pencatatan ekspor impor kerap dilakukan secara sistematis antara eksportir RI dan importir di negara tujuan. Praktik manipulasi terpelihara karena pajak penghasilan badan (PPh) di Indonesia yang tinggi, yakni 25%. Bandingkan dengan Singapura yang hanya 17%.
  • Ketua Umum dewan Karet Indonesia Azis Pane mengatakan, Pratik manipulasi tersebut banyak dilakukan oleh para eksportir karet mentah Indonesia. Dia berujar, para eksportir nakal bekerja sama dengan importir di Singapura untuk memanipulasi volume dan nilai ekspor yang tertera di invois ekspor impor.
  • Praktik ini yang membuat kondisi kelebihan pasokan karet global semakin parah karena para importir di negara lain terbiasa membeli dengan harga di bawah harga pasar melalui skema ilegal ini sehingga ekspor karet yang legal menjadi tidak laku.
  • Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan, sejauh ini proses ekspor batubara cenderung sangat ketat. Pasalnya selain diawasi oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, juga diawasi oleh Kementerian Perdagangan dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
  • Menurutnya, ada kemungkinan praktik nakal yang dilakukan oleh eksportir yang bekerja sama dengan importir, yang dilakukan dengan metode transfer pricing. Pola ini dilakukan oleh dua perusahaan yang dimiliki oleh pihak yang sama. Salah satu perusahaan bertindak sebagai eksportir dan yang lainnya sebagai importir.
  • Sementara itu Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia Kanya Lakhsmi mengkalim, manipulasi data ekspor minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan produk turunannya sangat jarang terjadi. Pasalnya proses ekspor CPO di Indonesia sangat ketat.
  • Adapun, berdasarkan riset dari The Prakarsa, sepanjang 1989-2017 Indonesia mengalami aliran keuangan gelap masuk dengan cara ekspor over-invoicing senilai US$101,49 miliar. Over-invoicing sendiri merupakan pencatatan ekspor yang melebihi nilai ekspor riil.
  • Sementara pada periode yang sama Indonesia mengalami aliran keuangan gelap keluar dengan cara ekspor under-invoicing senilai US$40,58 miliar.
  • The Prakasa mencatat, praktik ini dilakukan oleh para eksportir di enam komoditas unggulan RI yakni minyak kelapa sawit, batubara, Udang-udangan, karet alam, tembaga, dan kopi.

(Bisnis Indonesia, Yustinus Andri)

LEAVE A REPLY