Indonesia Today: Angin Segar CPO Jelang Putusan UE Minyak Kelapa Sawit

IDR/USD = ↑ 14.434             +11              (+0,08%)              (Source : Bloomberg)

JCI : IND     ↓ 6.071,20          -64,19          (-1,05%)               (Source : Bloomberg)

 

190515_Angin Segar CPO Jelang Putusan UE_Minyak Kelapa Sawit.

  • Jelang keputusan Parlemen Uni Eropa terkait dengan skema renewable energy directive (RED) II dan indirect land use change (ILUC), minyak kelapa sawit Indonesia justru menuai sentimen positif dari sisi harga sebagai dampak dari perang dagang antara China dan Amerika Serikat.
  • Apabila kebikakan ini resmi diterapkan, hampir dipastikan ini akan menjadi sentimen negatif bagi ekspor dan harga crude palm oil (CPO), sehingga akhirnya akan berdampak kepada kinerja dagang RI.
  • Ekonom Indef Ahmad Heri Firdaus mengatakan, perang dagang antara AS dan China akan menjadi peluang bagi RI untuk mengalihkan ekspor CPO dan produk turunannya apabila resmi dihambat oleh UE.
  • Selama ini China menggunakan minyak kedelai sebagai salah satu bahan bakar terbarukan. Namun, dengan kebijakan Beijing yang akan meningkatkan bea masuk minyak kedelai asal AS, maka dipastikan akan membuat CPO dilirik sebagai produk substitusi minyak kedelai.
  • Berdasarkan data bursa Malaysia Berhad, harga CPO kontrak pengiriman Juli 2019 menguat 28 poin ke posisi 1,985 ringgit per ton dari hari sebelumnya.
  • Heri menambahkan, untuk negara maju selain UE, bisa diarahkan ekspor CPO berbasis energi seperti biofuel. Sementara untuk negara berkembang seperti di Afrika dan Amerika Latin, bisa diarahkan untuk produk campuran makanan dan farmasi.
  • Ketua Bidang Perdagangan dan Promosi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) Master P. Tumanggor mengatakan, peningkatan konsumsi dalam negeri menjadi salah satu cara jitu untuk menjaga agar harga CPO meningkat.
  • Dengan demikian, dia berharap percepatan pemberlakukan biodiesel B30 akan membantu mengangkat harga komoditas itu.
  • Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun menduga, saat ini China masih akan mengalihkan permintaan kedelai dan produk turunannya dari AS ke Argentina dan Brasil.
  • Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian Musdalifah Mahmud mengatakan, saat ini telah dibentuk tim kerja yang beranggotakan kementerian dan lembaga serta pengusaha CPO untuk melakukan langkah strategis lanjutan apabila RED II dan ILUC resmi disetujui oleh Parlemen Eropa.
  • Dia pun berharap UE tidak jadi menerapkan RED II dan ILUC. Pasalnya pasar Eropa cukup penting bagi CPO RI, yang merupakan komoditas ekspor utama RI.
  • Menurutnya, permintaan pasar Benua Biru dikhawatirkannya akan menggangu kinerja ekspor RI pada masa depan.

 

(Bisnis Indonesia, Yustinus Andri)

LEAVE A REPLY