Indonesia Today: Arus Modal Asing Memperkuat Nilai Tukar Rupiah

IDR/USD = ↑ 14.291,5          +47,5             (+0,33%)              (Source : Bloomberg)

JCI : IND     ↑ 6.152,86         +34,54           (+0,56%)              (Source : Bloomberg)

 

181205_Ijepa Diminta Cakup Transfer Ilmu_Kerja Sama Bilateral.

  • Pemerintah Indonesia harus memastikan kerangka kerja sama Indonesia-Jepang Economic Partnership Agreement (IJEPA) memuat aspek transfer ilmu dari Jepang ke Indonesia. Kepastian transfer ilmu ini menjadi penting di tengah berkembangnya tren industri 4.0.
  • Langkah itu dapat dilakukan apabila Indonesia dapat menekankan detail kesepakatan pelaksanaan New Manufacturing Indfustry Development Center (Midec) dengan Jepang. Jepang dapat menjadi mitra yang tepat untuk mengembangkan industri Indonesia.
  • Midec merupakan kerja sama teknis dalam rangka peningkatan daya saing industri nasional melalui pelatihan, pengiriman tenaga ahli, kunjungan kerja ke industri, serta seminar.
  • Direktur Perundingan Bilateral Kementerian Perdagangan Ni Made Ayu Marthini dalam keterangan resminya mengatakan proses peninjauan kembali IJEPA telah mengalami kemajuan yang cukup pesat pada tahun ini.
  • Dia mengklaim Indonesia dan Jepang sepakat untuk mempercepat penyelesaian pakta kerja sama komprehensif tersebut pada tahun ini.
  • Made mengatakan, upaya perluasan akses pasar produk potensial menjadi fokus utama Indonesia, khususnya pada sektor perikanan, industri, pertanian, dan kehutanan.
  • Selain itu, dalam pertemuan Komite Bersama ke-10, Indonesia menjelaskan hasil pematangan proposal kerja sama yang diharapkan bersifat saling menguntungkan bagi kedua negara, diantaranya di bidang sumber daya manusia (SDM) tenaga kesehatan, pertanian, dan ekonomi kreatif.
  • Dalam pertemuan tersebut dibahas pula mengenai kesepakatan di sektor pergerakan tenaga kerja perseorangan (MNP), kerja sama dan pengadaan barang/jasa pemerintah, serta pertemuan informal isu perbaikan lingkungan usaha dan peningkatan kepercayaan bisnis.

(Bisnis Indonesia, Yustinus Andri)

 

181205_Ekspor Buah Tropis Kian ‘Kecut’_Komoditas Pertanian.

  • Kinerja ekspor buah-buahan tropis Indonesia mencatatkan penurunan cukup signifikan sepanjang tahun berjalan, sebagai akibat dari masih tingginya berbagai hambatan, baik dari dalam negeri maupun di Negara tujuan.
  • Ekspor buah-buahan tropis Indonesia masih terhambat oleh kendala kapasitas produksi yang tidak stabil dan kualitas yang tidak terjaga. Di sisi lain Indonesia cenderung hanya mengandalkan beberapa buah saja untuk diekspor, seperti manga, manggis, pisang, dan salak. Alhasil, nilai ekspor buah RI sepanjang Januari-Oktober hanya US$674,05 juta, turun 10,44% secara tahunan.
  • Sebaliknya, tingginya impor buah dipicu oleh pergeseran preferensi konsumen yang gandrung gaya hidup sehat dan belum memadainya produk subtitusi di dalam negeri.

(Bisnis Indonesia, Yustinus Andri)

 

Domestik:

  • Arus modal asing yang masuk (capital inflow) mendorong penguatan nilai tukar rupiah. Bank Indonesia (BI) memperkirakan, potensi inflow ke pasar surat berharga negara (SBN), masih besar. Namun, potensi itu juga dibayang-bayangi risiko. Nilai tukar rupiah masih dalam tren penguatan, meski pada penutupan perdagangan di pasar spot Selasa (4/12) kemarin, rupiah bergerak ke level Rp 14.285 per dollar Amerika Serikat (AS). Level ini melemah 0,35% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya
  • Pemerintah kembali mengeluarkan jurus lama dalam penerbitan surat utang untuk membiayai defisit anggaran di tahun 2019. Yakni menggeber penerbitan surat utang di paruh pertama alias front loading. Pemerintah beralasan, strategi ini demi mengamankan kas saat global masih penuh ketidakpastian. Pertama, merujuk dot plot Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed masih akan mengetatkan kebijakan moneternya di tahun ini dan tahun depan dengan menaikkan suku bunga acuan tiga kali. Kedua,  meski bersepakat gencatan senjata di perang tarif, dua negara berkekuatan ekonomi besar yakni AS dan China belum benar-benar mereda. “Mereka hanya bersepakat selama 90 hari, setelah itu atau masa itu, kita tak tahu apa yang akan terjadi,” ujar  Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara akhir pekan lalu.

Bisnis & Investasi:

  • Kekuatan dompet investor ritel lokal menjadi pasar potensial pemasaran surat berharga negara (SBN) ritel. Tahun depan, pemerintah menargetkan total nilai penerbitan SBN ritel mencapai Rp 60 triliun, setara 7,26% dari total penerbitan SBN bruto tahun 2019 yang senilai Rp 825,7 triliun. Nilai itu naik 30% dibanding tahun ini. Sebagai perbandingan, tahun ini realisasi penerbitan SBN ritel hanya sekitar Rp 46 triliun, naik dari target awal yang sebesar Rp 40 triliun. Realisasi penerbitan obligasi ritel itu setara dengan 5,37% nilai total penerbitan SBN bruto tahun ini yang sebesar Rp 856,49 triliun. Selain target menjadi lebih besar, penjualan SBN ritel tahun depan pun berbeda.

  • Disrupsi digital secara masif meresap ke berbagai sendi ekonomi negara, termasuk ke industri keuangan. Bagi perbankan konvensional, tidak ada cara lain selain beradaptasi dengan teknologi yang menciptakan tren baru bagi masyarakat dalam bertransaksi perbankan. Nasabah millenial kini lebih nyaman menggunakan fasilitas perbankan lewat digital yang serba mudah nan cepat. Bank berusaha menangkap perubahan tersebut lewat pengembangan digital bank dengan penyediaan infrastruktur serta teknologi informasi. Modal untuk membangun digital banking ini tidak sedikit.

  • Tidak begitu banyak ekspansi yang bakal dilakukan PT Ciputra Develpoment Tbk (CTRA) tahun depan. Menyambut tahun politik, emiten properti ini menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 1,5 triliun. Anggaran ini tak mengalami perubahan jika dibanding alokasi tahun ini. Capex tahun depan akan digunakan untuk melanjutkan proyek yang sudah berjalan, seperti pembangunan pusat perbelanjaan di Citra Raya Tangerang, Ciputra World Surabaya dan Citra Land City Surabaya.
  • Produsen bahan peledak PT Ancora Indonesia Resources Tbk (OKAS) menyiapkan belanja modal alias capital expenditure (capex) sebesar US$ 7,5 juta untuk tahun depan. Dana tersebut dialokasikan untuk investasi pabrik booster dan operasional tambang emas di Lombok. Rencananya, besaran capex yang akan digunakan untuk investasi pabrik booster di Kalimantan Timur sebesar US$ 3,5 juta. Booster merupakan produk pelengkap alias aksesori bahan peledak. Kapasitas produksi pabrik tersebut ditargetkan mencapai 7 juta pieces per tahun.
  • PT Adaro Energy Tbk (ADRO) lebih konservatif melihat prospek bisnis tahun depan. Perusahaan tambang ini memastikan tetap akan membatasi ekspor batubara ke China. Adaro mengakui China masih menjadi salah satu importir batubara terbesar. “Ekspor ke China kami batasi tidak lebih dari 11%,” ujar Direktur Utama Garibaldi Tohir pada KONTAN belum lama ini.
  • PT Indika Energy Tbk melalui PT Kideco Jaya Agung menargetkan produksi batubara pada tahun depan mencapai 34 juta ton. Jumlah ini sama dengan proyeksi produksi batubara tahun ini. Director PT Indika Energy Tbk, Azis Armand mengatakan, hingga September tahun ini, produksi batubara Grup Indika sudah mencapai 26,1 juta ton. Agar target tersebut tercapai, emiten tambang bersandi saham INDY di Bursa Efek Indonesia ini masih harus memproduksi sebanyak 7,9 juta ton batubara pada kuartal terakhir 2018.

  • Perusahaan distributor alat berat merek Komatsu, PT United Tractors Tbk (UNTR), merevisi target penjualan tahun ini. Perusahaan di bawah Grup Astra itu menaikkan target penjualan alat berat seiring lonjakan permintaan alat berat dari sektor pertambangan. Awal tahun ini, UNTR membidik penjualan alat berat berkisar antara 4.200 unit-4.500 unit. Seiring lonjakan permintaan alat berat.
  • Pada tahun depan, PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC) mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) tidak jauh berbeda dengan capex tahun ini, yaitu Rp 100 miliar. Perusahaan teknologi informasi ini akan menggunakan 60% dana belanja modal untuk kegiatan akuisisi. Direktur Independen ATIC, Hendra Halim, mengatakan besaran angka capex tahun depan masih belum bisa dipastikan karena masih dalam tahap perhitungan. Namun jumlahnya mungkin sama seperti capex tahun ini.

 

Internasional:

  • Qatar memutuskan akan mundur dari keanggotaan Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) mulai Januari tahun depan. Keputusan ini diambil lantaran Qatar ingin fokus pada gas alam cair alias liquefied natural gas (LNG). Keputusan ini dinilai bisa mempengaruhi harga minyak mentah dunia tahun depan. Menurut Bhima Yudhistira Adhinegara, Peneliti Institute for Development of Economic and Finance (Indef), keluarnya Qatar dari OPEC memicu sentimen global yang khawatir terkait pasokan minyak di tahun 2019.
  • Iran tidak gentar dengan Amerika Serikat (AS) terkait kebijakan minyak mentah. Seperti diberitakan Reuters kemarin, Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan negeri Paman Sam tidak akan pernah bisa menghentikan rencana Iran mengekspor minyak. Iran sendiri sudah mendapatkan sanksi dari AS soal kebijakan minyak. Hubungan Iran dan AS semakin memanas setelah sebelumnya, Donald Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir multilateral pada bulan Mei dan memberlakukan kembali sanksi terhadap Iran. Menurut Rouhani, AS tidak akan bisa memaksakan hubungan ekonomi satu negara.
  • Teck Resources Ltd mengatakan, Selasa (4/12) bahwa mereka setuju menjual 30% saham dalam ekspansi tambang tembaga Quebrada Blanca di Cile utara.Perusahaan pertambangan asal Kanada itu akan menjual  ke Sumitomo Jepang seharga US$ 1,2 miliar. Dua perusahaan, yakni Sumitomo Metal Mining akan membayar US$ 800 juta dan Sumitomo Corporation akan membayar US$ 400 juta. Harga ini di bawah dari yang diharapkan oleh Teck senilai US$ 2 miliar untuk membantu mengembangkan tahap kedua dari tambang.
  • Persaingan General Motors Co dan Ford Motor Co akan lebih keras. Seperti diberitakan Reuters kemarin, eksekutif GM menyebutkan produsen mobil nomor satu di Amerika Serikat (AS) ini akan serangannya terhadap Ford. Strategi GM adalah masuk ke penjualan ke kendaraan niaga. Hal ini untuk menopang margin keuntungan di tengah melemahnya permintaan kendaraan konsumen.
  • People’s Bank of China (PBoC) bakal terus memantau pergerakan ekonomi di Negeri Panda. Bank Sentral China tersebut akan terus berupaya menjaga kebijakan moneter fleksibel yang menyesuaikan dengan perubahan situasi ekonomi Tiongkok. Nah, menghadapi menurunnya dampak perang dagang dengan Amerika Serikat (AS) akibat perdamaian kedua negara tersebut, PBoC bakalan mengeluarkan kebijakan yang lebih agresif  mendorong pertumbuhan ekonomi.

(Sumber: Kontan 18/11/05)

Disclaimer: Rangkuman ini diambil untuk tujuan non-profit berita selengkapnya dapat dibaca di sumber terkait.

LEAVE A REPLY