Indonesia Today: Beras Impor Bulog Salah Kelola Pangan Pokok

IDR/USD = ↑ 14.139                +26,5           (+0,19%)              (Source : Bloomberg)

JCI : IND     ↑ 6.384,90             +5,21          (+0,08%)              (Source : Bloomberg)

 

190703_Beras Impor Bulog Salah Kelola_Pangan Pokok

  • Perum Bulog (Persero) harus segera membenahi tata kelola beras impornya, untuk menghindari terulangnya kasus penumpukan 1 juta ton beras sisa impor 2018 akibat terkendala isu penyaluran.
  • Direktur Utama Bulog Budi Waseso mengkalim, beras-beras eks impor itu sulit disalurkan lantaran kualitasnya tidak sesuai dengan preferensi masyarakat. Beras yang tersisa di Bulog saat ini berkarakter pera, yang biasanya digemari oleh daerah tertentu seperti Sumatera. Sementara 80% konsumen dalam negeri menyukai beras berkarakter pulen.
  • Berkaca pada kondisi tersebut, Bulog saat ini sedang menyususn daftar kebutuhan dan preferensi jenis beras di seluruh Indonesia. Data tersebut akan dijadikan acuan bagi Bulog apabila ditugaskan kembali untuk melakukan impor beras.
  • Di sisi lain, Buwas kembali memastikan pada tahun ini tidak akan ada impor beras. Namun, impor beras berpeluang dilakukan kembali tahun depan, dengan catatan hasil produksi beras petani pada tahun ini mengalami gangguan luar biasa.
  • Pengamat pertanian dari Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) Husein Sawit menyebutkan, kondisi itu tidak lepas dari kebijakan Bulog dan Pemerintah yang lebih memilih mengimpor beras dari Vietnam dan Pakistan dengan volume yang lebih besar dibandingkan dengan beras dari Thailand.
  • Pemasalahannya, beras Vietnam dan Pakistan berkarakter pera, sedangkan beras Thailand berkarakter pulen.
  • Keputusan impor beras yang gegabah pada tahun lalu itu, menurutnya disebabkan oleh kepanikan pemerintah ketika stok beras Bulog menipis pada awal 2018. Di sisi lain, pemerintah ingin mengamankan stok beras dengan mengimpor dalam jumlah besar untuk mengamankan gejolak perberasan pada saat pemilu 2019.
  • Sementara itu, anggota pokja Ahli Dewan Ketahanan Pangan Pusat Khudori mengatakan persoalan perbedaan preferensi konsumen terhadap karakter beras tertentu dengan beras impor sudah terasa sejak 2018. Hal itu tercermin dari gagalnya Bulog mencapai target operasi pasar sebesar 15.000 ton per hari.
  • Guru Besar Ekonomi Pertanian UNILA dan ekonom senior Indef Bustanul Arifin berpendapat, persoalan sulit terserapnya beras impor oleh masyarakat disebabkan oleh perubahan bentuk bantuan sosial dari rastra menjadi bantuan pangan nontunai (BPNT) pada tahun ini.
  • Menurutnya pemerintah tidak melakukan sinkronisasi kebijakan antara pengamanan stok pangan melalui impor dengan perubahan metode bansos.
  • Ketua umum Perhimpunan Penggilingan Padi Indonesia (Perpadi) Soetarto Alimoeso menambahkan, saat ini langkah yang dapat ditempuh Bulog adalah dengan melakukan pengoplosan beras antara yang diimpor dengan serapan dari petani tahun ini.

 

(Bisnis Indonesia, Yustinus Andri)

LEAVE A REPLY