Indonesia Today: Bersatu Pulihkan Harga CPO Deklarasi CPOPC Melawan Kampanye Negatif

IDR/USD = ↑ 14.069                +39,5            (+0,28%)              (Source : Bloomberg)

JCI ; IND     ↓ 6.443,35             -882,34         (-1,26%)               (Source : Bloomberg)

 

190301_Bersatu Pulihkan Harga CPO_Deklarasi CPOPC Melawan Kampanye Negatif.

  • Keputusan bersama anggota Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) untuk melawan kampanye negatif dari Uni Eropa (UE) diyakini akan membawa angin segar bagi perbaikan harga crude palm oil dalam jangka panjang.
  • Dalam CPOPC Ministerial Meeting ke-6, Kamis (28/2), Malaysia dan Indonesia sepakat segera menemui otoritas Uni Eropa (UE) untuk menyuarakan perlawanan terhadap kampanye negatif minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya.
  • Kolombia, Thailand dan Pantai Gading akan menyusul menjadi negara anggota CPOPC.
  • Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, mulai saat ini perlawanan terhadap kampanye negatif CPO akan melibatkan konsultasi di tingkat bilateral, Asean, dan forum lainnya.
  • Saat ini, harga CPO terus berada dalam tren penurunan. Berdasarkan data Bloomberg, dalam 5 tahun terakhir, harga CPO menyentuh level tertinggi 2.785 ringgit per ton pada 2017 dan turun 23,84% menjadi 2.121 ringgit per ton pada Kamis (28/2).
  • Darmin menambahkan, CPOPC sepakat menentang rancangan peraturan Komisi Eropa, yaitu Delegated Regulation Supplementing Directive 2018/2019 of the UE Renewable Energy Directive II (RED II).
  • Selain itu, UE Juga menggunakan konsep Indirect Land Use Change (ILUC) untuk mengeluarkan CPO sebagai produk yang ramah lingkungan. Padahal ILUC dipertanyakan standar ilmiahnya, karena hanya fokus pada CPO yang dituding sebagai dalang deforestasi.
  • Saat ini, lanjut Darmin, CPOPC sedang mewaspadai langkah UE, yang mendeskriminasi CPO melalui Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).
  • Menurutnya, pendekatan UE, untuk mendiskriminasi CPO dituangkan dalam rancangan resolusi mengenai Deforestation and Agricultural Commodity Supply Chains, yang diusulkan UE melalui United Nations Environment Assembly.
  • CPOPC akan mendekati PBB dengan mengusung kampanye positif tentang CPO sekaligus menggandeng organisasi di bawah PBB seperti United Environment Programme (UNEP) dan Food and Agricultural Organization (FAO).
  • Menurut Darmin, CPOPC siap mengadukan UE ke World Trade Organization (WTO). Kendati demikian, pengaduan itu baru dapat dilakukan apabila UE secara resmi memberlakukan skema RED II, yang terbukti mendeskriminasi CPO.

(Bisnis Indonesia, Yustinus Andri, Dika Irawan, Puput Ady Sukarno)

LEAVE A REPLY