Indonesia Today: Mencermati Trade War AS-China & Implikasinya Persektif Mari Elka Pangestu

IDR/USD = ↓ 14.326,5            -33,5           (-0,23%)               (Source : Bloomberg)

JCI : IND     ↑ 6.209,12           +10,31        (+0,17%)              (Source : Bloomberg)

 

190513_Mencermati Trade War AS-China & Implikasinya_Persektif Mari Elka Pangestu.

  • Tidak tercapainya kesepakatan untuk menyelesaikan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China pada pekan lalu sebenarnya dapat diperkirakan, walaupun banyak yang berharap akan ada kesepakatan “sementara”.
  • Dampak langsung dari pengenaan bea masuk terhadap perdagangan AS dan China tidak besar terhadap Indonesia. Indonesia tidak terlalu menjadi bagian dari Global Value Chain (GVC) yang terganggu oleh bea masuk yang dikenakan oleh AS, seperti barang elektronik, mesin, dan telekomunikasi.
  • Indonesia juga diperkirakan tidak mendapat benyak manfaat dari peralihan perdagangan dan relokasi investasi dari China.
  • Yang banyak memperoleh keuntungan adalah Vietnam. Hal ini disebabkan kurang kondusifnya iklim investasi di Indonesia terkait dengan peraturan tenaga kerja dan infrastruktur.
  • Dampak negatif terhadap Indonesia dari perang dagang akan dirasakan dari melambatnya pertumbuhan China, yang sesungguhnya sudah terlihat sejak krisis global dengan penurunan permintaan dan harga komoditas.
  • Perang dagang adalah “symptom” atau dampak yang kelihatan, dari serangkaian isu yang lebih mendalam terkait dengan munculnya China sebagai kekuatan ekonomi dan teknologi dunia melalui cara yang dianggap tidak sesuai dengan prinsip yang adil, persaingan yang sehat, dan transparan.
  • Posisi yang berlaku sekarang adalah bahwa prilaku China tidak dapat didisiplinkan dengan aturan main World Trade Organization (WTO), dan WTO selama ini dianggap tidak menguntungkan AS.
  • Oleh karena itu, AS harus bertindak secara Unilateral dan berubah sikap dari salah satu pemimpin sistem multilateral, menjadi ancaman terbesar dari sistem multilateral.
  • Yang menjadi isu dan dipermasalahkan oleh AS mengenai China adalah perlindungan dan penerapan hukum atas pelanggaran Hak dan Kekayaan Intelektual (HAKI), pemaksaan transfer teknologi oleh perusahaan yang investasi di China, subsidi dan perlakuan preferensi kepada perusahaan pelat merah China, subsidi untuk perkembangan industri dan teknologi yang sedang digalakan di China (Made in China 2025), serta manipulasi mata uang yuan (Cuurency manipulation).
  • Kerugian terbesar dari perang dagang adalah ketidakpastian perdagangan dunia yang timbul dalam keadaan Indonesia perlu diversifikasi ekspor barang dan jasa-jasa, serta meningkatkan daya saing dan investasi yang dapat mendorong peningkatan produktivitas di Indonesia.
  • Seharusnya Indonesia menyikapi semua ini dengan strtegi tiga arah dan melakukan persiapan posisi yang kuat dan komprehnsif serta tetap memajukan kepentingan bangsa.
  • Pertama, melakukan reformasi yang dapat manarik investasi bukan saja untuk relokasi, tetapi agar Indonesia masuk dalam kancah perubahan struktur tatanan perdagangan dunia yang akan berkembang ke depan.
  • Reformasi dilakukan di bidang tenaga kerja, infrastruktur, biaya untuk berbisnis, dan iklim investasi yang pasti dan trasparan.
  • Kedua, kita perlu aliansi dengan mitra dagang lain dan mendorong akses ke pasar lain di luar AS dan kita juga perlu mempunyai hubungan yang berimbang dengan China. Hal tersebut terkait dengan perjanjian-perjanjian internasional seperti di kawasan Asia Timur serta bilateral dengan mitra besar seperti Uni Eropa. Kita perlu menjaga hubungan dan bermitra dengan China agar memperoleh saling manfaat (win-win).
  • Ketiga, kita berkepentingan agar sistem multilateral di bawah naungan WTO tetap berlangsung. Kita berkepentingan bahwa isu-isu yang disebut oleh AS sebagai masalah mereka dengan China, dapat diselesaikan dengan perundingan multilateral dan tidak diselesaikan secara bilateral atau unilateral dengan kaca mata keuntungan dari AS.

 

(Bisnis Indonesia, Perspektif Mari Elka Pangestu)

LEAVE A REPLY