Indonesia Today: Menguji Taji Skema Pangkas Ekspor Problem Harga Karet

IDR/USD = ↓ 14.229               -13,5             (-0,09%)               (Source : Bloomberg)

JCI : IND     ↓ 6.452,61           -16,15           (-0,25%)               (Source : Bloomberg)

 

190402_Menguji Taji Skema Pangkas Ekspor_Problem Harga Karet.

  • Implementasi pemangkasan ekspor karet alam oleh negara anggota International Tripartite Rubber Council (ITRC) perlu dikawal ketat agar berdampak signifikan terhadap penguatan harga komoditas tersebut.
  • Ketua Umum Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) Azis Pane mengatakan, penerapan skema pemangkasan ekspor karet alam atau dikenal dengan Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) di Thailand, Indonesia, dan Malaysia sangat tepat untuk membantu mengerek harga komoditas itu di pasar global.
  • Azis melanjutkan, kebijakan tersebut tidak akan berdampak signifikan karena kerap dilanggar oleh negara anggota ITRC.
  • Sebaliknya Ketua Umum Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Moenardji Soedargo optimistis implementasi AETS tahun ini akan lebih efektif. Pasalnya komitmen negara anggota kali ini sangat tinggi untuk menangkal anjloknya harga karet alam global.
  • Pelaksanaan AETS tahun ini bersamaan musim hujan tinggi, biasanya mengakibatkan turunnya volume produksi. Sehingga kecil kemungkinan negara lain justru mengambil kesempatan untuk menggelontor pasar.
  • Moenarji justru khawatir ketika skema AETS usai, karena berpotensi menimbulkan pasok berlebih. Oleh karena itu, penyerapan karet alam petani perlu dipercepat. Dia juga memperkirakan implementasi AETS mampu mendongkrak harga karet alam global, setidaknya hingga tiga bulan ke depan.
  • Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal mengatakan, ancaman AETS justru akan datang dari negara anggota ITRC. Pasalnya kegagalan selama ini akibat tingginya ekspor karet ilegal dari negara anggota.
  • Kasan Muhri, Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kementerian Perdagangan mengatakan, penerapan AETS tahun ini ditargetkan dapat mengerek harga karet alam hingga US$2/kg atau US$2.000/ton, naik signifikan dari level terendahnya pada November 2018 yang sempat mencapai US$1,2/kg atau US$1.200/ton
  • Kasan juga optimis tingkat kepatuhan para produsen karet, terutama Indonesia akan meningkat, karena pemerintah telah menerbitkan aturan pelaksanaan AETS melalui Kepmendag No. 779/2019 tentang Pelaksanaan AETS Keenam Untuk Komoditi Karet Alam.
  • Di dalam aturan itu, selama pelaksanaan AETS pada 1 April-31 Juli 2019, volume ekspor karet yang diperbolehkan hanya 941.791 ton.
  • Gapkindo ditunjuk sebagai pelaksana kebijakan tersebut dan juga melaporkan hasilnya kepada Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri dan Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Luar Negeri Kemendag.

 

(Bisnis Indonesia, Yustinus Andri)

LEAVE A REPLY