Indonesia Today: Non-G20 Menggiurkan Ekspansi Pasar Ekspor

IDR/USD = ↑ 14.120              +51             (+0,36%)              (Source : Bloomberg)

JCI : IND     ↑ 6.499,88          +56,54         (+0,88%)              (Source : Bloomberg)

 

190304_Non-G20 Menggiurkan_Ekspansi Pasar Ekspor.

  • Langkah pemerintah untuk memacu kerja sama dagang dengan negara-negara non-G20 pada tahun ini dinilai sudah tepat. Hanya saja, dampaknya ke perbaikan kinerja ekspor baru bisa dirasakan dalam jangka panjang.
  • Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani mengatakan, mayoritas kerja sama yang akan dan telah dilakukan Indonesia dengan negara-negara di luar anggota Group of 20 (G20) berbentuk preferential trade agreement (PTA).
  • Kolaborasi dagang dalam format PTA dinilai hanya akan lebih fokus pada isu pembebasan hambatan dagang tarif untuk ekspor barang dan jasa. Sebaliknya isu hambatan dagang nontarif atau non-tariff barriers (NTB) acap kali luput dari prioritas negosiasi.
  • Shinta melanjutkan, kerja sama dengan non-negara G20 cenderung lebih menguntungkan lantaran peluang Indonesia untuk mengekspor produk menjadi lebih besar sebab negara non-G20, terutama di Afrika, industrinya rata-rata masih belum tumbuh secara masif.
  • Ketua Komite Tetap Ekspor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Handito Joewono berharap agar dengan adanya kerja sama dagang berupa PTA maupun free trade agreement (FTA) dengan negara non-G20, dapat mereduksi ketidakpastian dari sisi hambatan tarif. Terlebih, menurutnya, kendati skala ekonominya kecil, negara non-G20 memiliki pangsa pasar yang menjanjikan karena memiliki jumlah penduduk yang besar.
  • Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno mengatakan, pemerintah harus mengkaji lebih dalam potensi di negara non-G20. Pasalnya, ketidakpastian di negara non-G20 masih cukup besar.
  • Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal mengatakan, secara jangka pendek ekspor ke negara non-G20 cenderung belum terlalu besar. Menurutnya, dengan adanya kerja sama dagang yang digelar dengan negara-negara tersebut, ekspor Indonesia dalam jangka panjang dapat meningkat secara signifikan.
  • Dia mengatakan, kerja sama dengan negara non-G20 sangat penting. Pasalnya saat ini negara-negara G20 sedang tertekan oleh tren perlambatan ekonomi. Hal berbeda terjadi di negara non-G20, pertumbuhan ekonomi negara tersebut relatif stabil dan pangsa pasarnya belum banyak terjamah.
  • Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati sebelumnya menjabarkan, belum maksimalnya kinerja ekspor ke negara nontradisional pada tahun lalu menjadi hal yang wajar.
  • Pasalnya, negara-negara di Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin mayoritas belum memiliki industri yang mumpuni. Di sisi lain Indonesia belum bisa memaksimalkan ekspor produk olahannya, lantaran laju pertumbuhan manufaktur pada 2018 hanya menggapai level 4,5%.

(Bisnis Indonesia, Yustinus Andri)

LEAVE A REPLY