Indonesia Today: Pengamanan Dagang Tak Berdampak Besar Upaya Peningkatan Ekspor

IDR/USD = ↑ 14.127,5          +37,5          (+0,27%)              (Source : Bloomberg)

JCI : IND     ↑ 6.413,36         +4,58          (+0,07%)              (Source : Bloomberg)

 

190117_Pengamanan Dagang Tak Berdampak Besar_Upaya Peningkatan Ekspor.

  • Upaya pemerintah dalam melakukan tindak pengamanan perdagangan internasional terbukti belum menunjukkan dampak signifikan terhadap kinerja ekspor nonmigas.
  • Ketua Komite Tetap Ekspor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Handito Joewono mengatakan, tindak pengamanan perdagangan (trade remedies) yang diupayakan pemerintah sepanjang tahun lalu belum maksimal karena sejumlah produk andalan ekspor Indonesia masih cukup banyak mengalami hambatan ekspor. Misalnya, minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) ke India dan Uni Eropa serta produk kertas ke Australia dan Amerika Serikat.
  • Sekedar catatan, Kementerian Perdagangan mengklaim berhasil mengamankan akses pasar ke Sembilan negara dengan nilai potensi ekspor mencapai Rp25,2 triliun melalui mekanisme trade remedies. Indonesia disebutkan mampu memenangkan 19 kasus sengketa perdagangan pada 2018.
  • Sementara, dalam hal perluasan akses pasar ekspor pada 2018, Kemendag mengklaim ratifikasi tujuh perjanjian dagang pada tahun lalu berpotensi meningkatkan ekspor senilai US$1,9 miliar.
  • Namun demikian, pertumbuhan nilai ekspor nonmigas RI pada 2018 hanya mencapai US$162,65 miliar atau tumbuh 6,25% secara year on year (yoy). Capaian itu berada di bawah ekspektasi Kemendag, yang menargetkan pertumbuhan ekspor nonmigas sebesar 11%.
  • Ketua Umum Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia Benny Soetrisno menjelaskan, salah satu penyebab gagalnya perbaikan kinerja ekspor nonmigas pada tahun lalu adalah keterlambatan eksekusi perjanjian dagang oleh pemerintah. Hal itu membuat manfaat yang didapat oleh eksportir Indonesia terlalu rendah.
  • Sementara itu, Kepala Ekonom Center for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri berpendapat, tindak pengamanan perdagangan yang dilakukan Indonesia sepanjang tahun lalu belum terlalu mumpuni.
  • Penyebabnya adalah karena negosiator Indonesia masih lemah dalam menyelesaikan perselisihan dagang dengan negara lain. Selain itu, negara ini dirugikan akibat turunnya fungsi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
  • “Tahun ini kita patut waspada, karena ada potensi perlambatan pertumbuhan volume perdagangan global. Di sisi lain, kita patut waspada dengan negara pesaing kita di Asean seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Sebab, mereka sudah mampu memaksimalkan perannya dalam rantai pasok global (global supply chain/GSC) melalui perjanjian dagang yang dijalin sejak beberapa tahun lalu,” katanya.

(Bisnis Indonesia, Yustinus Andri)

LEAVE A REPLY