Indonesia Today: Perang Tarif Memanas Lagi Hubungan AS-China

IDR/USD = ↑ 14.185                  +69              (+0,49%)              (Source : Bloomberg)

JCI : IND     ↓ 6.340,18               -41,36          (-0,65%)               (Source : Bloomberg)

 

190805_Perang Tarif Memanas Lagi_Hubungan AS-China.

  • Hubungan Amerika Serikat (AS) dan China kemungkinan akan menjadi semakin lebih renggang dan penuh ketegangan. Ancaman untuk memberlakukan tarif terhadap hampir semua impor AS dari China menandai peningkatan ketegangan terbesar sejauh ini yang diambil oleh pemerintahan Trump. Semmentara itu, akhir dari perang dagang yang berkepanjangan menjadi semakin tidak pasti.
  • Donald Trump kembali menebar ancaman. Kali ini, Trump akan menetapkan tarif sebesar 10% terhadap produk asal China senilai US$300 miliar, yang akan berlaku mulai 1 September mendatang. Tarif itu masih berpeluang akan dinaikan menjadi 25% jika China masih berbelit di meja perundingan.
  • China telah berulang kali mengecam taktik tekanan semacam itu, yang berarti akan memperpanjang kebuntuan jika Beijing merespons ancaman dengan memilih mundur dari meja perundingan.
  • Pemerintahan Presiden Xi Jinpiing menegaskan, bahwa mereka akan memberikan sanksi balasan terhadap ancaman tarif tambahan dari Trump.
  • Editor media pemerintah, Global Times, Hu Xijin, mengunggah sebuah tulisan melalui akun twiter-nya yang mengatakan bahwa tarif baru tidak akan memberikan AS apa yang mereka inginkan. Ancaman ini, kata dia, justru menjauhkan AS dari kesepakatan dagang.
  • Ancaman Trump tersebut selang sepekan dari pernyataan International Monetary Fund (IMF) yang menurunkan propek pertuumbuhan global. Mereka memberikan indikasi bahwa kebijakan yang keliru terhadap sengketa dagang dan Brexit dapat menghambat rebound pertumbuhan yang dinanti.
  • Gubernur The Fed Jerome Powell baru saja menyatakan bahwa ketegangan yang disebabkan oleh tarif perdagangan adalah alasan mengapa bank sentral memangkas suku bunga untuk pertama kalinya dalam satu dekade terakhir.
  • Analis Morgan Stanley turut menyampaikan sebuah catatan bahwa resesi AS akan sangat mungkin terjadi dalam tiga kuartal ke depan jika ancaman pungutan 10% terhadap produk China senilai US$300 miliar tersebut naik menjadi 25% dan berlaku selama empat hingga enam bulan.
  • Menurut kepala riset kebijakan moneter di Moody`s Analytics Inc., Ryan Sweet, eskalasi ketegangan perdagangan pada saat yang sama akan meningkatkan risiko resesi AS. Meskipun kepercayaan diri konsumer masih cukup tinggi, menurutnya, sikap yang sama tidak terlihat pada pelaku bisnis. “Ketidakpastian dagang adalah kekhawatiran utama para pelaku bisnis,” kata Sweet.

 

(Bisnis Indonesia, Nirmala Aninda)

 

LEAVE A REPLY