Indonesia Today: PMA Berorientasi Ekspor Ditunggu Transaksi Modal & Finansial

IDR/USD = ↓ 14.197,5                   -40                (-0,28%)               (Source : Bloomberg)

JCI : IND     ↑ 6.328,47                    +39,35        (+0,63%)              (Source : Bloomberg)

 

190902_PMA Berorientasi Ekspor Ditunggu_Transaksi Modal & Finansial.

  • Pemerintah berupaya menarik minat investor asing untuk menanamkan dananya di industri yang berorientasi ekspor sebagai langkah meminimalisasi ketergantungan terhadap investasi portofolio.
  • Langkah ini juga diyakini akan mendongkrak kinerja transaksi modal dan finansial dalam Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Pasalnya, pada kuartal II/2019 neraca transaksi modal dan finansial surplus sebesar US$7,1 miliar dan menjadi salah satu penyangga NPI.
  • Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, Indonesia memerlukan sumber pembiayaan ekonomi lain, salah satunya diawali dengan memperbaiki iklim investasi guna mendorong penanaman modal asing (PMA) pada sektor berorientasi ekspor.
  • Perry menambahkan, ketidakpastian dan tren proteksionisme pasar keuangan global secara perlahan bisa berimbas pada aliran modal yang masuk ke Tanah Air. Apalagi, arus modal antarnegara tidak hanya dijelaskan pada perbedaan suku bunga atau yield, tetapi juga pada risiko dan volatilitas nilai tukar.
  • Kepala institute Bank Indonesia, Solikin M. Juhro menambahkan, jika berkaca dari negara maju ekspansi kebijakan moneter belum tentu bisa mendorong geliat sektor riil. Selain itu imbal hasil dan pengaruh nilai tukar masih menjadi kendala Indonesia bisa tampil lebih atraktif di pasar global.
  • Sebagai langkah antisipasi ke depan, Solikin memastikan bank sentral akan menjamin terjaganya current account deficit (CAD). Jika stabil, Indonesia masih bisa tampil prima di pasar keuangan global meski masih dalam kondisi perang dagang.
  • Ekonom senior Indef Aviliani menyatakan, berkaca dari RAPBN 2020, rasio utang diperkirakan 29,4%-30,1% dari PDB. Angka ini dinilai masih aman karena tidak melanggar UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara yang mencatat batas rasio utang maksimal 60% dari PDB.
  • Menurutnya dalam menghadapi tren investasi ke depan pemerintah selaku pemangku kebijakan fiskal bersama bank sentral selaku pemangku kebijakan moneter perlu mengeluarkan aplikasi pilihan investasi berdasarkan program atau proyek.
  • Ekonom Pefindo Fikri C. Permana menilai, meski porsi Surat Utang Negara (SUN) maupun portofolio lain masih dikuasai asing, bukan berarti transaksi modal dan finansial tidak akan tumbuh positif. Menurutnya melepas ketergantungan pada aliran modal asing membutuhkan waktu yang cukup panjang.
  • Fikri menilai, keuntungannya besarnya porsi konsumsi Indonesia masih bisa diperkuat untuk menambah foreign direct investment (FDI). Utamanya sebagai penguatan sumber dana di tengah ketidakpastian global dan perang dagang.

 

(Bisnis Indonesia, Gloria F.K. Lawi)

LEAVE A REPLY