Indonesia Today: Produk Indonesia Kalah Saing di GCC Kinerja Ekspor

IDR/USD = ↑ 13.997                +12               (+0,09%)              (Source : Bloomberg)

JCI : IND     ↓ 6.384,99             -18,82           (-0,29%)               (Source : Bloomberg)

 

190725_Produk Indonesia Kalah Saing di GCC_Kinerja Ekspor.

  • Indonesia tertinggal dari negara Asean lain dalam memaksimalkan ekspor ke negara anggota Dewan Kerja sama Teluk Arab (Gulf Cooperation Council/GCC).
  • Direktur Perundingan Bilateral Kementerian Perdagangan (Kemendag) Ni Made Ayu Marthini menyebutkan, Indonesia kalah bersaing karena belum adanya pakta dagang atau kerja sama ekonomi antara Indonesia dengan kelompok negara Timur Tengah tersebut.
  • “Kita sebenarnya sudah berusaha menggelar kerja sama dagang dengan GCC. Namun, GCC justru yang belum siap untuk menggelar kerja sama dagang baru,” hal ini disebabkan konflik politik internal antaranggota kelompok negara Timur Tengah tersebut. Salah satunya terkait dengan keanggotaan Qatar.
  • Ketua Komite Tetap BidangEkspor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Handito Joewono menyayangkan tertinggalnya Indonesia dari negara Asean lain dalam memanfaatkan pasar Timur Tengah dan tertundanya proses pembentukan kerja sama dagang RI dengan GCC.
  • “Saya pikir untuk menjadi hub ekspor ke GCC saat ini, yang paling masuk akal adalah Singapura. Sebab dari segi kapasitas produksi negara itu, terutama produk agrikultura dan pangan mereka belum banyak, sehingga bisa kita isi untuk direekspor ke GCC,” paparnya.
  • Ketua Umum Gabungan Pengusha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengakui sulitnya menembus pasar negara anggota GCC, meskipun potensi pasar di kawasan tersebut sangat besar. Kita kalah bersaing dari Thailand dan Malaysia.
  • Untuk itu dia menilai, pembentukan pakta kerja sama dagang menjadi kunci utama agar produk makanan dan minuman (mamin) Indonesia dapat menjangkau pasar GCC. Di sisi lain, dia juga mendesak agar produsen mamin di Tanah Air untuk memperbaiki kualitas dan memenuhi setiap ketentuan yang diberlakukan negara tersebut.
  • Daya saing produk RI juga terkendala oleh ketidakmampuan produsen Indonesia mengikuti ketentuan standar khusus dan label, khususnya UKM. Ketentuan batas kandungan bahan tertentu atau label yang harus menggunakan dua bahasa, yaitu Arab dan Inggris.
  • Wakil Ketua Bidang Perdagangan Kadin Benny soetrisno mengatakan, GCC bukan merupakan pasar ekspor yang besar bagi RI. Namun, dia melihat GCC dapat menjadi hub bagi ekspor Indonesia menuju Afrika, Eropa dan Asia Tengah.
  • Dia pun menegaskan, dengan kondisi ekonomi global yang terjadi saat ini dan mulai hilangnya pendapatan mayoritas negara GCC dari tambang minyak, akan membuat negara anggota kelompok tersebut makin membuka diri dengan mitra dagangnya.

 

(Bisnis Indonesia, yustinus Andri)

LEAVE A REPLY