Indonesia Today: RUU Perlindungan Data Pribadi

IDR/USD = ↓ 14.864               -112,50            (-0,75%)               (Source : Bloomberg)

JCI : IND     ↑ 5.956,53          +35,93              (+0,61%)              (Source : Bloomberg)

 

181106_Asean Tak Boleh Lengah_Peluang Perang Dagang.

  • Eskalasi tensi dagang antara Amerika Serikat dan China yang dikhawatirkan dapat merusak momentum perdagangan global secara meluas, tampaknya tidak berlaku bagi perusahaan-perusahaan di kawasan Asia Tenggara.
  • Riset terbaru HSBC Navigator 2018 yang bertajuk Now, Next, and How for Businee Global mengungkapkan bahwa perusahaan di Asia Tenggara memiliki prospek perdagangan yang paling menjanjikan di dunia. Laporan itu dibuat berdasarkan survei global yang melibatkan 8.500 instansi bisnis di 34 negara.
  • Posisinya yang tidak jauh dari China, tawaran biaya produksi yang lebih murah, pabrik manufaktur yang bekerja dengan baik, serta pertumbuhan ekonomi yang solid, dengan lima negara terbesarnya mencatatkan ekspansi ekonomi rata-rata di atas 5% disebut-sebut menjadi sejumlah faktor yang bisa menarik investasi asing ke wilayah tersebut.
  • Eskalasi perang tarif diperkirakan membuka peluang bagi pasar bagi Asia Tenggara di sektor elektronik, tekstil, dan otomotif. Thailand dan Malaysia sejauh ini memiliki jaringan produksi elektronik yang baik, terutama dalam perakitan hard disk drive (HDD). Kondisi ini dinilai dapat menarik produsen produk tersebut dari China.
  • Sementara itu bagi Indonesia, seperti halnya Vietnam, sejauh ini juga telah kian kompetitif dalam menghasilkan produk manufaktur ringan dan tekstil.
  • Sebelumnya, Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Indonesia Frederico Gil Sander menilai, Tanah Air harus dapat menggunakan tensi dagang global untuk meningkatkan dan mengubah kebijakan investasi dan ekspor ke arah yang lebih positif.
  • Mengingat manfaat yang diterima kawasan Asean bisa saja hanya berlangsung dalam jangka pendek, HSBC mengingatkan kepada perusahaan-perusahaan di kawasan Asean untuk terus mempersiapkan diri dalam menghadapi ketegangan yang bisa saja terjadi dalam jangka menengah.
  • Pengembangan teknologi dinilai dapat menjadi jawaban dan kunci untuk meningkatkan daya saing dan daya Tarik. Sebanyak 37% dari responden di Asean telah semakin fokus meningkatkan adopsi konsep digital dan teknologi ke dalam bisnis.
  • Salah satu upaya yang dapat dipersiapkan adalah dengan memberikan investasi melalui peningkatan kualitas pendidikan, infrastruktur, dan lingkungan regulatori yang dapat membawa perkembangan digital menjadi salah satu mesin pertumbuhan pada masa depan.
  • Sebanyak 86% perusahaan di kawasan Asean memiliki optimisme mengenai prospek perdagangan luar negeri, atau lebih tinggi dari blok perdagangan lainnya di dunia, dan berada di atas rata-rata global sebesar 77%.

(Bisnis Indonesia, Dwi Nicken Tari)

 

Domestik:

  • Saat berbagai tekanan mengadang ekonomi dalam negeri, ekonomi Indonesia kuartal III-2018 masih tumbuh 5,17% dibanding periode sama tahun lalu. Memang, ekonomi tidak tumbuh meroket tinggi. Toh, data-data positif ekonomi lokal bisa menjadi amunisi penangkal sentimen eksternal. Sebagai gambaran, Badan Pusat Statistik, merilis pertumbuhan domestik bruto (PDB) triwulan III mencapai 5,17% year on year. Pencapaian ini masih sejalan target setahun penuh, yaitu 5,30%.

  • Kasus pencurian data rawan terjadi. Perusahaan sebesar Facebook, semisal, harus mengakui kebobolan data-data pribadi penggunanya. Para hacker terus berupaya menguar data, termasuk data transaksi keuangan. Lantaran itu pula, pembahasan Rancangan UndangUndang (RUU) tentang Perlindungan Data Pribadi harus dikebut.  Apalagi, dari 55 RUU, RUU ini menjadi prioritas pembahasan Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2019.

  • Optimisme pelaku bisnis pada kuartal IV 2018 kembali menurun. Hal ini terlihat dari Indeks Tendensi Bisnis (ITB) kuartal IV yang hasi survei Badan Pusat Statistik (BPS). BPS menyebut ITB turun 1,6 poin menjadi 106,45 poin, dari kuartal II-2018. Memang, ITB 106,45 poin masih menggambarkan bahwa pebisnis dalam kondisi optimistis. Selain itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mejelaskan, seluruh komponen pembentuk ITB kuartal IV-2018 masih mencatatkan kondisi yang lebih baik (lebih dari 100).
  • Bank Indonesia (BI) kembali menambah second line of defense (garis pertahanan kedua) melalui penandatanganan kerjasama keuangan bilateral dengan Bank Sentral Singapura (Monetary Authority of Singapore atau MAS) dengan nilai setara US$ 10 miliar. Ini merupakan tindak lanjut kesepakatan Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong di Bali, 11 Oktober 2018 lalu.

Bisnis & Investasi:

  • Hingga awal November 2018, telah ada 519 emiten atau setara dengan 87% dari perusahaan yang tercatat di BEI telah menyampaikan laporan keuangan kuartal III-2018. BEI menyebut, rata-rata kinerja emiten meningkat. I Gede Nyoman Yetna, Direktur Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (5/11) mengatakan, pendapatan emiten yang telah rilis laporan keuangan naik 10% menjadi Rp 2.061 triliun pada kuartal III tahun ini. Sedangkan, laba bersih emiten telah tumbuh 12% menjadi Rp 244 triliun di kuartal III-2018.
  • PT Kota Satu Properti Tbk (SATU) mempersiapkan ekspansi bisnis usai mencatatkan diri di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perusahaan ini akan menggunakan keseluruhan dana initial public offering (IPO) Rp 58,5 miliar untuk ekspansi. Dana IPO sebesar 60% untuk menunjang proyek baru. Perusahaan ini berencana berekspansi dengan membangun kluster baru berisi 85 unit rumah. Sementara 20% dari dana IPO untuk penyelesaian proyek perusahaan.
  • Sistem pembayaran asing merambah pasar Indonesia. Aplikasi pengirim pesan asal China yakni WeChat dan aplikasi pembayaran Alipay misalnya menggandeng PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) agar bisa memberikan layanan pembayaran di Indonesia. Kerjasama ini bertujuan agar layanan WeChat dan Alipay, terhubung dengan sistem Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) di Indonesia sesuai Peraturan Bank Indonesia No.19/8/PBI/2017 tentang Gerbang Pembayaran Nasional (National Payment Gateway) yang tertulis, lembaga switching domestik dapat bekerja sama dengan penyelenggara switching di luar GPN dalam pembayaran transaksi jika ingin beroperasi di sini.
  • Efisiensi masih menjadi pekerjaan rumah bagi PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk atau GMF AeroAsia. Meski kinerja pendapatan usaha dalam tren naik, laba tahun berjalan mereka justru konsisten turun. Tengok saja kinerja per 30 September 2018. Pendapatan usaha GMF AeroAsia masih tumbuh 7,78% year on year (yoy) menjadi US$ 334,69 juta. Namun laba tahun berjalan justru menyusut 29,28% yoy menjadi US$ 26,98 juta. Pasalnya, beban usaha GMF AeroAsia selama sembilan bulan di tahun ini naik 15,82% yoy menjadi US$ 295,68 juta. Alhasil, kinerjanya menyusut sejak di pos laba usaha yakni US$ 37,29 juta atau berkurang 32,42% yoy.

  • PT Harum Energy Tbk telah memproduksi 2,9 juta ton batubara hingga September 2018. Mereka masih harus memproduksi 1,6 juta ton batubara lagi demi menggenapi target tahun ini sebanyak 4,5 juta ton batubara. Sejatinya, volume penjualan batubara Harum Energy per September tahun ini turun 5,3% year on year (yoy). Beruntung, kondisi tersebut diimbangi dengan kenaikan rata-rata harga jual batubara 13,4% yoy.
  • Aktivitas megaproyek kelistrikan 35.000 Megawatt (MW) belum berhenti. Dalam setahun ini, setidaknya sudah dua kali PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) meraup utang jumbo untuk mendanai proyek tersebut. Pertama, PLN menerbitkan obligasi global (global bond) dalam dua mata uang asing, yaitu dollar Amerika Serikat dan euro. Perinciannya, senilai US$ 500 juta dengan tenor 10 tahun 3 bulan, kemudian US$ 500 juta bertenor 30 tahun 3 bulan serta € 500 juta dengan tenor tujuh tahun. Kedua, PLN baru saja mendapatkan fasilitas pinjaman sindikasi senilai total US$ 1,62 miliar yang berasal dari 20 bank internasional. Pinjaman tersebut terdiri dari fasilitas pinjaman berjangka (term loan facility) senilai US$ 1,32 miliar dengan tenor lima tahun dan revolving credit facility senilai US$ 300 juta yang bertenor tiga tahun.

 

Internasional:

  • Kalangan perbankan di Jepang harus bersiap menghadapi kelesuan ekonomi di negeri matahari terbit itu. Salah satu cara untuk bisa terus bersaing maka harus bisa saling bersinergi. Seperti diberitakan Reuters, Gubernur Bank of Japan Haruhiko Kuroda mengatakan merger dan konsolidasi merupakan langkah yang dapat diambil oleh bank-bank regional untuk bisa bertahan hidup di lingkungan bisnis yang semakin menantang.
  • Maskapai penerbangan pelat merah asal Afrika Selatan, South African Airways membukukan utang sebesar 9,2 miliar rand atau setara dengan US$ 642 juta pada Maret 2018. Karena itu, Chief Executive Officer (CEO) South African Airways Vuyani Jarana berencana mencari cara untuk menebus utang ini. Manajemen perusahaan ini akan membuat lebih banyak lagi rute penerbangan yang menguntungkan.
  • com sedang berdiskusi untuk membuka kantor pusat keduanya di Amerika Serikat (AS). Amazon.com sedang berbicara dengan beberapa pihak terkait lokasi kota-kota yang memungkinkan untuk dijadikan markas. Salah satu kota yang menjadi calon adalah Dallas yang terletak di New York, sebelah utara Virginia. Dilansir Reuters (5/11), Amazon. com juga kemungkinan bakal mengumumkan rencananya untuk membuka pusat operasi yang lebih kecil di kota yang berada di daftar pilihan kedua. Amazon kini tengah dalam pembicaraan dengan JBG Smith Properties terkait negosiasi properti. Amazon juga juga tengah negosiasi dengan pejabat Virginia soal insentif.
  • Nilai pasar perusahaan-perusahaan global yang masuk dalam 10 besar perusahaan dengan kapitalisasi terbesar mengalami penurunan selama seminggu terakhir. Penurunan harga saham di pasar merupakan penyebab utamanya. Saham Apple Inc. misalnya tergerus hingga 6% pada Jumat pekan lalu (26/10). Itu menyebabkan produsen ponsel pintar ini harus kehilangan status perusahaan dengan nilai kapitalisasi pasar di atas US$ 1 triliun yang berhasil disandangnya awal Agustus 2018.
  • China mulai menunjukkan itikad baik untuk menyelesaikan sengketa dagang dengan Amerika Serikat (AS). Presiden China Xi Jinping berjanji menurunkan tarif impor dan memperluas akses perdagangan ke China. Seperti diberitakan Reuters, Senin (5/11), selain menurunkan tarif impor, China juga bakal memperluas akses pasar dan mengimpor lebih banyak dari luar negeri. Ini merupakan niat baik China di tengah memanasnya hubungan China dengan AS.

(Sumber: Kontan 18/11/06)

Disclaimer: Rangkuman ini diambil untuk tujuan non-profit berita selengkapnya dapat dibaca di sumber terkait.

LEAVE A REPLY