Indonesia Today: Soal Sawit, Malaysia Siap “Tempur” Kampanye Hitam Eropa

IDR/USD = ↑ 14.047,5               +3,5              (+0,02%)              (Source : Bloomberg)

JCI : IND     ↑ 6.512,78              +18,12           (0,28%)                (Source : Bloomberg)

 

190221_Soal Sawit, Malaysia Siap “Tempur”_Kampanye Hitam Eropa.

  • Produsen minyak kelapa sawit di Asia sepertinya perlu merapatkan barisan guna melawan kampanye hitam dari Eropa. Apalagi, Malaysia, produsen CPO terbesar kedua di dunia, tengah berancang-ancang untuk pertempuran jangka panjang dengan Uni Eropa, lantaran ada kemungkinan blok tersebut benar-benar melarang penggunaan minyak tersebut.
  • Pada 8 Februari lalu, Komisi Uni Eropa mengajukan pendelegasian kewenangan yang mengklasifikasikan minyak kelapa sawit dari perkebunan besar sebagai tidak berkelanjutan, serta mengusulkan agar minyak itu dikeluarkan dari target biofuel.
  • Menteri Luar Negeri Malaysia Saifuddin Abdullah mengatakan, jika Komisi Eropa mengesahkan rancangan undang-undang pembatasan penggunaan kelapa sawit, maka akan sangat merugikan industri sawit Malaysia. Selain itu peraturan itu juga dapat mendorong pembatasan di pasar lain.
  • Dia menambahkan, untuk saat ini, minyak kelapa sawit masih menjadi ganjalan di balik kebuntuan perjanjian perdagangan antara Uni Eropa dan Asean. Asean menunda pakta yang akan meningkatkan status Uni Eropa untuk menjadi mitra dialog strategis.
  • Mengacu laporan World Bank, produksi minyak kelapa sawit Malaysia periode 2018/2019 diperkirakan mencapai 20,50 juta ton. Hasil tersebut menempatkan Malaysia di posisi kedua, produsen terbesar sawit dunia. Indonesia berada di posisi pertama dengan perkiraan produksi mencapai 47,43 juta ton.
  • Malaysia dan Prancis akan menghelat sejumlah dialog dan pertemuan untuk membangun pemahaman yang lebih baik tentang industri kelapa sawit, kata Menteri Industri Utama Malaysia Teresa Kok dalam sebuah pernyataan.
  • Malaysia menempuh langkah ini setelah Parlemen Prancis baru-baru ini memutuskan untuk mengecualikan minyak kelapa sawit sebagai bahan baku biodiesel, serta mengakhiri insentif pajak bagi minyak tersebut pada 2020.
  • Pada bulan lalu, Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengirim surat protes dan meminta Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk menolak langkah Majelis Nasioanl Prancis tersebut. Menurut Mahathir langkah tersebut dapat menyebabkan konsekuensi ekonomi dan perdagangan yang mengecewakan.
  • Sebelumnya, produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia, Indonesia, tidak akan menerima rencana Uni Eropa untuk mengekang penggunaan tanaman tersebut.
  • Indonesia hendak menantang rencana yang dikenal sebagai RED II itu di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Alasannya, peraturan tersebut tidak memenuhi prisip-prinsip perdagangan bebas. Selain itu, metode yang digunakan untuk mendefinisikan keberlanjutan cenderung diskriminatif.

(Bisnis Indonesia, Dika Irawan)

LEAVE A REPLY