Indonesia Today: Strategi Jaga Langganan Ala Enggartiasto Diplomasi Perdagangan

IDR/USD = ↓ 14.223            -6                    (-0,04%)               (Source : Bloomberg)

JCI : IND     ↑ 6.476,07        +23,46             (+0,36%)              (Source : Bloomberg)

 

190404_Strategi Jaga Langganan Ala Enggartiasto_Diplomasi Perdagangan.

  • Ketika menghadapi ancaman pencabutan fasilitas generalized system of preferences (GSP) oleh Amerika Serikat (AS), delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Kementerian Perdagangan menyebutkan komitmennya untuk menyerap kapas, kedelai, dan buah-buahan dari AS.
  • Kebijakan itu menurut Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, memanfaatkan kondisi kelebihan pasokan komoditas-komoditas tersebut di AS akibat perang dagang dengan China. Hanya saja, hingga saat ini AS masih belum memastikan hasil peninjauan terkait dengan visibilitas Indonesia untuk menerima GSP lagi.
  • Selanjutnya dengan India, Negeri Bollywood tak kunjung menurunkan bea masuk produk turunan CPO dari level 50%, kendati Indonesia telah menawarkan pembukaan keran impor gula mentah dan gaing kerbau.
  • “Saat ini, Pemerintah Filipina sepakat mengkaji kembali kebijakan perdagangan dan investasi mereka, termasuk kebijakan penerapan special safeguard (SSG) sebagai upaya resiprokal untuk membuka akses pasar masing-masing negara,” ujar Menteri Enggar dalam keterangan resminya, Rabu (3/4).
  • Meskipun Indonesia telah mengikuti permintaan Filipina untuk melonggarkan impor sejumlah komoditas, negara beribukota Manila itu tak kunjung mendeklarasikan komitmennya untuk mencabut SSG untuk kopi kemasan asal RI.
  • Direktur Pengamanan Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Pradnyawati menjamin, kebijakan itu tidak akan berdampak signifikan terhadap impor Indonesia. Pasalnya, kebijakan itu hanya diterapkan kepada negara mitra yang Indonesia mengalami surplus neraca perdagangan. Ini kami namakan strategi ‘jaga langanan’.
  • Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal mengatakan, apa yang dilakukan oleh Filipina, AS dan India terhadap RI sejatinya diperbolehkan dalam kesepakatan Organisasi Dagang Internasional (WTO). Terlebih negara-negara itu mengalami defisit neraca dagang dengan RI, sehingga wajar jika mereka menerapkan restriksi dagang.
  • Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani meyakini, pemerintah telah memperhitungkan dengan matang terkait dengan langkah tersebut. Dia pun mengklaim bahwa Indonesia saat ini jauh lebih berhati-hati dalam membuka keran impor.
  • Ketua Komite Tetap Ekspor Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Handito Joewono meminta agar pemerintah mengkalkulasi ulang keuntungan yang bakal didapat RI dari strategi tersebut.
  • “Eksportir kita juga harus memanfaatkan peluang ketika negara mitra membuka restriksinya. Jangan sampai eksportir yang memanfaatkan hanya itu-itu saja, sementara eksportir negara mitra terus merambah pasar kita,” katanya.

 

(Bisnis Indonesia, Yustinus Andri DP)

LEAVE A REPLY