Indonesia Today: Untung Rugi dari Perang Tarif Sengketa Perdagangan AS-China

IDR/USD = ↓ 14.280            -17,5             (-0,12%)               (Source : Bloomberg)

JCI : IND     ↑ 6.297,32        +40,97          (+0,65%)              (Source : Bloomberg)

 

190508_Untung Rugi dari Perang Tarif_Sengketa Perdagangan AS-China.

  • Tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang makin meninggi tak hanya merugikan kedua belah pihak, tetapi perdagangan secara global pun ikut terdampak.
  • Dalam perkembangan terakhir, Trump memancing ketegangan perdagangan dengan ancaman bahwa tarif baru akan diberlakukan pada Jumat (10/5), dan pihaknya akan menambah daftar produk tambahan yang akan menjadi target tarif impor senilai US$325 miliar.
  • Mengutip dari Reuters, jika kenaikan tarif 25% serta penambahan target tarif diberlakukan maka seluruh pengiriman barang dari China ke AS akan dikenakan biaya cukai.
  • Data Bea Cukai China menunjukkan ekspor ke Amerika Serikat pada Maret turun 47% dibandingkan dengan Juni 2018, yang merupakan bulan terakhir sebelum putaran pertama pemberlakuan tarif dimulai. Sementara itu, impor dari Amerika Serikat pada Maret tercatat 17% lebih rendah.
  • Sebagian besar penurunan pada ekspor AS ke China tercatat pada komoditas bahan mentah dan makanan. Menurut Oxford Economics, kedua produk tersebut mewakili sekitar sepertiga dari total ekspor AS.
  • Namun, untuk perusahaan AS dari sektor lain, termasuk Caterpillar dan Apple, juga melaporkan penurunan permintaan dari China yang berdampak laporan penjualan perusahaan.
  • Sementara itu, dari semua komoditas ekspor China ke AS, produk mesin dan kelistrikan mengalami dampak negatif terbesar.
  • Analisis DBS tentang rantai pasokan Asia untuk produk yang terikat dengan pasar AS menunjukkan risiko terbesar muncul dari produk mesin dan peralatan listrik yang diproduksi Korea selatan, Singapura Malaysia, Filipina, dan Taiwan.
  • Sebagian besar analis memproyeksikan bahwa dampak langsung perang dagang merugikan produk domestik bruto (PDB) bagi AS sebesar 0,1%-0,2%, sedangkan China diperkirakan mengalami kerugian 0,3%-0,6% dari total PDB.
  • Sepanjang kuartal pertama, ekonomi China tercatat tumbuh stabil 6,4%, sedangkan pada periode yang sama ekonomi As dilaporkan meningkat 3,2% atau lebih tinggi dari pencapaian pada periode terakhir sebelum ada pemberlakuan tarif.
  • Menurut data dari Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (CBP) AS, hingga pertengahan Maret, Washington telah menjaring pemasukan sebesar US$15,6 miliar melalui tarif yang diberlakukan sejak Februari 2018.

 

(Bisnis Indonesia, Nirmala Aninda)

LEAVE A REPLY