Indonesia Today (08/03/2017)

The original text of the summary of Indonesian media is written in Bahasa Indonesia.

IDR/USD = 13.350                0                      (0%)                     (Source : Bloomberg)

JCI : IND     ↓ 5.402,615        -7,202             (-0,13%)               (Source : Bloomberg)

 

170308, Bisnis Indonesia_Cadangan Devisa Topang Rupiah_Antisipasi Kenaikan Bunga AS.

  • Cadangan Devisa Indonesia yang kembali meningkat per akhir Februari 2017 diyakini cukup membantu penjagaan volatilitas nilai tukar rupiah, terlebih jika suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat naik pada bulan ini.
  • Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan devisa ekspor migas bagian pemerintah, penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, dan hasil lelang surat berharga Bank Indonesia (SBBI) valuta Asing (valas).
  • Nilai cadangan devisa saat ini cukup untuk membiayaai 8,9 bulan impor atau 8,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Performa ini berada diatas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
  • Ekonom Samuel Asset Management Lana Soelistianingsih mengatakan potensi penguatan nilai tukar dolar AS memang pada gilirannya akan menekan nilai tukar rupiah. Namun, dengan posisi cadangan devisa tersebut, menurut Lana, BI masih bisa menjaga nilai tukar rupiah di kisaran Rp13.350 – Rp13.400 per dolar Amerika Serikat.

(Kurniawan A. Wicaksono / kurniawan.agung@bisnis.com)

 

170308, Bisnis Indonesia_Waspadai Perang Dagang_Kebijakan AS.

  • Yose Rizal Damuri, Kepala Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS) memaparkan, perang dagang bisa terjadi jika Negara paling terdampak seperti China dan Jepang, membalas kebijakan Amerika Serikat.
  • Posisi Indonesia tak secara langsung terdampak efek kebijakan proteksionis Trump. Namun karena implementasi global value change, kebijakan presiden ari partai republik juga sedikit berimbas ke ekspor Indonesia.
  • Pasar ekpor Indonesia masih didominasi Negara-negara seperti Amerika Serikat, China, Jepang, dan Uni Eropa. Di China misalnya, 50% ekspor Indonesia diekspor kembali ke Negara lainnya.
  • Ekonom Mari Elka Pangestu meminta pemerintah mulai memikirkan terobosan untuk mengantisipasi situasi global yang tak menentu. Pasalnya, efek proteksionisme tidak sekadar masalah financial crisis, melainkan perubahan structural di mana pertumbuhan perdagangan akan lebih rendah dari sebelumnya.
  • “itu karena ada perubahan dari cara produksi, cara trade, cara investasi yang terjadi, nah disitu kita harus siap menghadapi persaingan ke depan,” imbuhnya.

(Edy Suwiknyo)

 

170308, Bisnis Indonesia_G20 Tolak Kebijakan Proteksionisme_Perjanjian Dagang.

  • Sejumlah menteri keuangan dari Negara-negara anggota G20 menerbitkan rancangan kesepakatan tentang penolakan terhadap kebijakan proteksionisme dan perjanjian perdagangan terbuka.
  • Kesepakatan itu untuk menanggapi sikap pemerintah Amerika Serikat di bawah komando Donald trump yang dianggap mengancam perdagangan bebas di tingkat global.
  • Negara-negara anggota G20 juga berencana membahas kembali mengenai nilai tukar mata uang terutama menghindari devaluasi dan tidak menggunakan nilai tukar untuk tujuan kompetitif. Rencana pembahasan tersebut merupakan reaksi terhadap sikap Trump yang menuduh beberapa Negara seperti China, Jepang dan Jerman yang sengaja mendevaluasi mata uang mereka.
  • Belum lama ini, AS juga bersiap untuk menentang kesepakatan yang diambil dalam Organisasi Dagang Internasional (WTO) yang dinilai merugikan kepentingan nasional Negara itu.
  • Dalam dokumen agenda kebijakan perdagangan tahunan AS yang diserahkan kepada Kongres AS pada Rabu (1/3) waktu setempat, pemerintah berkomitmen untuk tidak mentoleransi praktik perdagangan yang tidak adil dan mengganggu kedaulatan AS.
  • Dokumen itu merinci kebijakan Negara lain yang dinilai mengganggu kedaulatan AS. Kebijakan itu antara lain manipulasi nilai tukar mata uang, subsidi pemerintah Negara lain yang tak adil pada produk ekspor, pencurian kekayaan intelektual dan perusahaan Negara.

(Bloomberg/ Dewi A. Zuhriyah)

 

170308,Kompas_Propek Indonesia Positif_Pertumbuhan Ekonomi Indonesia.

  • Pasar cenderung melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini positif. Namun, potensi tekanan tetap ada jika Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve menaikan suku bunga secara bertahap. Di sisi lain Indonesia juga menghadapi persoalan ketimpangan kesejahteraan.
  • Ekonom senior UBS untuk Asean dan India, Edward Teather, mengatakan, potensi tekanan itu kemungkinan muncul pada semester II-2017.
  • Mengutip data Bank Dunia, lanjut Edward, sentiment pasar yang positif tercermin pada indeks kemudahan berbisnis di Indonesia. Sejak 2014, indeks kemudahan berbisnis menunjukkan tren meningkat sampai 2016. Namun, hal ini masih tertinggal jika dibandingkan dengan Singapura, Malaysia dan Thailand.
  • “tantangan yang akan dihadapi Indonesia adalah perlambatan ekspor. Hal ini berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan di masa yang akan datang,” ujar Edward.

(APO/JOE/REN)

LEAVE A REPLY